This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, January 7, 2017

Kabayan Sang Penegak Kejujuran

Di sebuah desa di Tatar Sunda tinggallah seorang anak bernama Kabayan. Semenjak bayi dia tinggal bersama kakek dan neneknya. Dia dibesarkan dan dididik oleh kakek dan neneknya dengan nilai-nilai keagamaan dan sosial yang sangat baik, seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, mandiri, adil, berani, peduli dan lain-lain.
Setiap hari, selain membantu kakek dan neneknya, Kabayan bersekolah di SD Generasi Emas. Di sekolah tersebut ada sebuah kantin yang disebut dengan Kantin Kejujuran. Banyak barang yang dijual di Kantin Kejujuran tersebut. Ada alat tulis, makanan, minuman, dan makanan ringan lainnya. Siswa yang ingin membeli barang-barang tersebut cukup menyimpan uang di sebuah kotak yang sudah disediakan sesuai dengan harga yang tertera.
Pada suatu hari, ketika jam istirahat, Kabayan memergoki ketiga temannya, yaitu Ujang, Asep, dan Desi sedang mengambil beberapa barang di Kantin Kejujuran. Mereka mengambil pensil, penghapus, kue dan air mineral. Namun mereka tidak membayar.
“Hey, mengapa kalian mengambil barang-barang itu tanpa menyimpan uang di dalam kotak?” tanya Kabayan.
“Sudahlah Kabayan jangan ikut campur” kata Ujang dengan nada tinggi.
“Iya Kabayan, lebih baik kamu tidak usah ikut campur. Ini bukan urusanmu” timpal Desi.
“Kalau kamu mau, nih pensil ini untuk kamu. Tenang saja tidak usah bayar”  bujuk Asep.
Dengan penuh keberanian dan keyakinan Kabayan menolak ajakan dan pemberian itu.
“Tidak! Itu perbuatan yang sangat tidak terpuji. Itu adalah perbuatan dosa. Perbuatan itu merugikan orang lain dan diri kalian sendiri.” tolak Kabayan.
“Halaah Kabayan! Sudahlah jangan banyak ceramah. Uruslah diri kamu sendiri.” kata Ujang. 
“Kalau kamu tidak mau menerimanya kita tidak mau menjadi teman kamu lagi!” ancam Ujang sambil mendorong Kabayan.
Lalu Kabayan jatuh terpental ke tanah.  Tidak lama kemudian dia kembali  bangun.
“Sahabat-sahabatku, janganlah kalian berbuat kasar seperti ini. Bukankah kita bersahabat sudah cukup lama? Jangan karena untuk menutupi ketidakjujuran, kalian rela memutuskan tali persahabatan kita.” pinta Kabayan.
“Sudah jangan banyak bicara! Jangan ikut campur dengan urusan kita! Kamu lebih baik pergi dari sini! Ini bukan urusanmu.” bentak Desi.
“Ya Allah, jangan begitu Des! Kamu ini perempuan. Tidak sepantasnya kamu berbicara dengan nada kasar seperti itu.”
Tidak lama kemudian, datanglah Pak Iwan. Pak Iwan adalah wali kelas mereka.
“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya Pak Iwan penuh kaget.
“Ini Pak, Kabayan mengganggu kita. Kita sedang ngobrol-ngobrol lalu tiba-tiba Kabayan datang mengganggu dan menuduh.”
“Mengganggu bagaimana maksudnya? Menuduh apa?” tanya Pak Iwan dengan penuh rasa bingung.
“Kabayan menuduh kita mengambil barang-barang di Kantin Kejujuran tanpa membayar, Pak.”
“Astagfirullah, tidak Pak. Demi Allah saya tidak menuduh seperti itu. Mereka benar-benar mengambil barang-barang itu tanpa membayar, Pak.” jelas Kabayan.
“Bohong! Kabayan bohong Pak! Teriak Ujang.
“Sudah-sudah, sekarang semuanya ikut Bapak ke ruang kantor!” pinta Pak Iwan.
Kemudian mereka pun berjalan menuju ruang kantor. Sambil berjalan, Ujang, Asep dan Desi saling berbisik. Entah apa lagi yang mereka sedang rencanakan.
Tak lama kemudian mereka tiba di ruang kantor. Lalu mereka duduk di kursi yang mengelilingi meja Pak Iwan.
“Kabayan, apa benar yang mereka katakan tadi?” tanya Pak Iwan.
“Tidak Pak. Tidak benar sama sekali.” jawab Kabayan.
“Waktu saya tadi ke Kantin Kejujuran, saya memergoki Ujang, Asep dan Desi sedang mengambil beberapa barang tanpa menyimpan uang di kotak itu, Pak.” lanjut Kabayan.
“Ujang, Asep, Desi, apa benar yang Kabayan ucapkan itu?” tanya Pak Iwan.
“Tidak, Pak. Tidak benar.” jawab Ujang.
“Iya Pak, kita membayar kok” timpal Asep.
“Astagfirullah, tadi itu jelas-jelas mereka mengambil barang-barang itu tanpa membayar, Pak. Malahan mereka menawari saya pensil. Mereka bilang tidak usah bayar. Kalau menolak, mereka mengancam tidak akan menjadi teman saya lagi.” jelas Kabayan.
“Desi, coba kamu berkata jujur. Apa yang tadi sebenarnya terjadi” telusur Pak Iwan.
“Eu… Begini Pak… Eu…sebenarnya tadi itu... Eu…” jawab Desi dengan gugup.
“Ayo Desi jawab saja! Jangan takut! Katakan sejujurnya!” bujuk Pak Iwan. 
Di wajah Desi terpancar perasaan bersalah. Sesekali dia menghela napas panjang dalam-dalam. Dia berusaha menguatkan diri untuk mengatakan sebuah kejujuran.
“Iya Pak, sebenarnya apa yang dikatakan Kabayan itu benar. Tadi sebenarnya kita tidak membayar untuk barang-barang yang kita ambil di Kantin Kejujuran.” jawab Desi penuh penyesalan.
“Benar begitu, Ujang, Asep?” tanya Pak Iwan menegaskan.
“Iya benar, Pak” jawab Ujang dan Asep sambil menunduk penuh rasa malu dan penyesalan.
“Oo, kalau begitu sekarang sudah jelas permasalahannya. Ujang, Asep, Desi, kalian harus berjanji untuk tidak mengulanginya lagi ya! Berkata dan berbuat jujurlah pada diri kalian sendiri dan orang lain. Karena kejujuran adalah kunci dari kepercayaan dan kesuksesan” nasihat Pak Iwan dengan bijak. 
“Baik Pak, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi” jawab Ujang, Asep, dan Desi.
“Sekarang, ayo kalian saling minta maaf!” ajak Pak Iwan.
“Maafin ya Kabayan.” pinta Ujang, Asep, dan Desi sambil menyalami Kabayan.
“Maafin juga saya ya teman-teman.” Pinta Kabayan dengan kerendahan hati.
“Terima kasih Kabayan. Kamu sudah memegang teguh dan menegakkan kejujuran di sekolah ini.” Pak Iwan mengapresiasi.
Mereka pun akhirnya saling memaafkan dan tersenyum. Lalu, dengan perasaan senang, mereka kembali masuk ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi. 


Penulis:  Cecep Gaos, S.Pd 
Guru SD Puri Artha Karawang

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/cecepgaos/kabayan-sang-penegak-kejujuran_586ef3b7f57a61500e0c06e1

Thursday, January 5, 2017

KULIT

Dulu engkau diabaikan karena mungkin tak cukup menarik 
Atau bahkan dianggap tak penting karena tak cukup cantik 
Semua orang seolah tak menghiraukan dan memilih berbalik 
Walau sebenarnya engkau adalah titipan dari sang khalik 

Kini engkau mulai dipandang 
Sekarang semua orang merasa senang 
Engkau bukan lagi kenangan dan angan-angan 
Karena semua sudah merasa menang 
Kehadiranmu membuat dunia terang benderang 

Masa depan adalah masa untukmu menampilkan eksistensi 
Menyeimbangkan diri dengan orang lain yang sudah lama termotivasi 
Dengan kelezatanmu yang membuat mereka maju dari berbagai sisi 
Engkau tidak bisa lagi dianggap basa-basi 
Engkau adalah KULIT, KUe LITerasi 

Buah karya Cecep Gaos Guru SD Puri Artha Karawang

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/cecepgaos/kulit_586e69fa82afbd6a0a50e1c1

Wednesday, January 4, 2017

SIM Masa Berlaku Habis Tidak Bisa Diperpanjang

Pada kesempatan kali ini, saya akan mengulas sedikit tentang hal yang berhubungan dengan POLISI. Boleh kan seorang guru menulis sesuatu tentang polisi? hehe.

Boleh dooong, karena mau tidak mau suatu saat nanti kita pasti akan berhubungan dengan polisi. Baik itu karena kena tilang, meminta bantuan, membuat SIM, memperpanjang SIM (sampai satu meter misalnya hehe), atau menjenguk seseorang yang sedang ditahan polisi hehe. Naudzubillah dengan yang terakhir saya sebutkan ini. Selain itu, kita sebagai guru ternyata harus literat dalam segala hal. Supaya tidak ketinggalan oleh murid-muridnya. Iya gak?

Oke, kalau begitu saya akan mengawali tulisan ini dengan kalimat yang tertera di judul "SIM Masa Berlaku Habis Tidak Bisa Diperpanjang". Itu adalah kalimat yang terpampang di sebuah poster yang terpajang di ruang pendaftaran penerbitan SIM Polres Karawang.
Oh maaf, sebelum saya lanjutkan tulisannya, barangkali ada yang bertanya-tanya kenapa saya ada di kantor polisi. Daripada nanti ada yang bertanya-tanya, mendingan saya jelasin dulu kenapa saya ada di sini hehe.

Ssttt...Tapi jangan bilang-bilang ya. Saya ada di sini sebenarnya mau memperpanjang SIM. Tapi ternyata SIM saya tidak bisa diperpanjang, karena khawatir nanti tidak bisa masuk dompet. Garing kan? hehe. Bukan karena itu kok. SIM saya tidak bisa diperpanjang karena kelalaian saya lupa dengan batas masa berlaku SIM yang saya punya. Sstt...sekali lagi jangan bilang-bilang ya hehe.
Maklum lah saya agak sibuk. Jadi lupa kalau masa berlaku SIM saya ternyata sudah berakhir bulan-bulan kemarin. Modus banget kan hehe.

Nah, sejalan dengan informasi yang saya temukan di poster yang saya sebutkan tadi, ketika saya melakukan pendaftaran, Ibu polisi petugas pendaftaran pun menjelaskan hal yang sama, bahwa SIM yang sudah lewat masa berlakunya tidak bisa diperpanjang alias harus membuat SIM baru, meskipun hanya terlewat satu hari. Untuk sekedar mengingatkan, Kalau membuat SIM baru itu artinya kita harus mengikuti serangkaian tes, yaitu tes teori dan praktik.

Hal ini sesuai dengan Perkap No. 9 Tahun 2012 Pasal 28 Ayat (2) yang menyebutkan bahwa perpanjangan SIM dilakukan sebelum masa berlakunya berakhir. Dan perpanjangan yang dilakukan setelah lewat masa berlaku harus diajukan SIM baru.

Kemudian diperkuat dengan Surat Telegram Kapolri ST/985/IV/2016 hurup BBB Poin 3 ,  tertanggal 20 April 2016 yang menyebutkan bahwa untuk SIM yang telah lewat masa berlakunya walaupun satu hari tidak dapat diperpanjang. SIM dapat diberikan kembali dengan melaksanakan proses penerbitan SIM baru sesuai dengan golongan SIM.

Lalu bagaimana dengan biaya yang harus dikeluarkan utuk membuat SIM baru atau perpanjangan saat ini? Ketika saya menunggu giliran pemanggilan untuk pengarahan dan tes tulis, saya temukan informasi biaya tersebut terpampang pada sebuah standing banner di depan ruang pendaftaran. Di sana terpampang bahwa:

A. Penerbitan SIM A
1. Baru Rp 120.000
2. Perpanjangan Rp 100.00
B.Penerbitan SIM BI
1. Baru Rp 120.000
2. Perpanjangan Rp 100.000
C. Penerbitan SIM BII
1. Baru Rp 120.000
2. Perpanjangan Rp 100.000
D. Penerbitan SIM C, CI, CII
1. Baru Rp 100.000
2. Perpanjangan Rp 75.000
E. Penerbitan SIM D, DI
1. Baru Rp 50.000
2. Perpanjangan Rp 30.000
F. SIM Internasional
1. Baru Rp 250.000
2. Perpanjangan Rp 225.000, sedangkan
G. Uji Keterampilan Mengemudi Melalui Simulator Rp 50.000.

Nah, itulah beberapa hal informasi tentang SIM. Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya ingin memberikan informasi pelaksanaan tesnya, baik teori maupun praktik.

Tes teori dilakukan secara elektonik. Peserta tes melihat, membaca dan mendengar soal-soal tes melalui layar proyektor yang tersambung dengan perangkat komputer yang berisi software soal tes teorinya. Soalnya berjumlah 30 item pertanyaan yang dilengkapi dengan gambar ilustrasi. Peserta menjawab pertanyaan dengan cara memijit perangkat penjawab yang berisi tombol A, B, atau C yang sudah tersedia di depan tempat duduk masing-masing peserta.  Setiap pertanyaan diberi waktu 60 detik alias satu menit, yang kemudian soalnya berganti secara otomatis. Berdasarkan penjelasan Pak polisi di awal, bahwa peserta dinyatakan lulus tes tulis jika dapat menjawab minimal 18 dari 30 pertanyaan. Nah sebelum ada yang nanya, saya sebutkan bahwa saya Alhamdulillah dapat menjawab 21 pertanyaan dengan benar. Artinya saya lulus pada tes teori. Horeee. Hehe.

Lalu, karena saya lulus pada tahap tes teori, maka saya langsung disilakan menuju tempat tes praktik di tempat yang sudah disediakan di lapangan. Nah, ini yang paling berat. Para peserta harus mengendarai sepeda motor melalui lintasan berbentuk lurus, angka 8, dan zigzag dengan ukuran yang relatif sangat sempit. Apalagi lintasan angka 8-nya, sangat sempit dan kecil. Pokoknya sesuatu banget dech hehe.

Nah, sebelum tes praktiknya dilaksanakan, Pak polisi memberikan penjelasan dan rule of the game-nya. Peserta harus dapat melintasi ketiga bentuk lintasan itu dengan mulus, tanpa menabrak dan menjatuhkan pembatas dan kaki tanpa menyentuh tanah sampai finish. Namun, sebelumnya para peserta diberi kesempatan dulu untuk mencoba lintasan (baca: latihan) selama kurang lebih 10 menit.  Singkat cerita, dimulailah tes praktiknya. Dalam satu sesi berjumlah 3 orang untuk melakukan tes secara bergiliran. Akhirnya tibalah giliran saya untuk melakukan ujian yang sebenarnya.  Ingin tahu kan hasilnya? Unfortunately, saya menabrak satu pembatas dan kaki menginjak tanah di lintasan angka 8. Kita diberikan only one shot. Walhasil saya dinyatakan tidak lulus pada tes praktik. Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Sehingga saya harus mengulang tes praktik pada tujuh hari kedepan. Sekedar info, bahwa ternyata tidak ada satu peserta pun pada hari ini yang lulus pada ujian praktik. Emeyzing hehe. Rasa-rasanya kalau Valentino Rossi pun tidak akan langsung bisa lulus di ujian praktik untuk mendapatkan SIM di sini. Hehe. Jadi, saya harus bersabar untuk mengikuti ujian ulang tes praktik minggu depan. FYI, rangkaian tes yang saya lalui hari ini dimulai pada sekitar jam 8 dan berakhir pada hampir jam 12. Oh iya saya lupa, persyaratan untuk membuat SIM yaitu KIR Dokter dan 2 fotokopi KTP.

Sebelum saya akhiri tulisan ini, barangkali ada beberapa hikmah yang bisa saya petik dari balada SIM ini. Yang pertama, untuk mendapatkan sesuatu itu tidak semuanya bisa dilakukan dengan mudah. perlu perjuangan, pengorbanan dan senantiasa fokus. Yang kedua, jangan ambil jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu dengan cara-cara yang tidak ma'ruf. Ngerti kan maksud saya hehe? Supaya nanti apa yang kita dapatkan dan miliki itu berkah.  Ingat, kejahatan tidak terjadi hanya karena ada niat, tetapi juga karena ada kesempatan. Oleh karena itu, WASPADALAH, WASPADALAH!!!

Itu saja yang bisa saya share pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat bagi diri pribadi dan bagi kita semua. Terima kasih. Salam hormat.

Penulis:
Cecep Gaos, S.Pd
SD Puri Artha Karawang

*Sebagian tulisan ditulis di sela-sela menunggu giliran tes SIM, sebagian yang lain diselesaikan di rumah. @4Januari2016

Sumber: http://www.gurusiana.id/cecepgaosspd/article/sim-masa-berlaku-habis-tidak-bisa-diperpanjang-2289540  

Tuesday, January 3, 2017

MENGGAGAS DAN MENGGEGAS KANAL BARU SAGUSAQODE (Buah Inspirasi dari TOT Literasi Produktif Berbasis IT Jakarta)

MENGGAGAS DAN MENGGEGAS KANAL BARU SAGUSAQODE
(Buah Inspirasi dari TOT Literasi Produktif Berbasis IT Jakarta)
Oleh: Cecep Gaos, S.Pd
Guru SD Puri Artha Karawang, IGI Jawa Barat

Training of Trainer (TOT) Literasi Produktif Berbasis IT Angkatan II Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang bekerjasama dengan Samsung telah selesai diselenggarakan di Balai Diklat Keagamaan Jakarta pada tanggal 24 dan 25 Desember 2016. Saya merupakan salah seorang yang merasa sangat bahagia dan beruntung karena telah menjadi bagian dari kegiatan TOT tersebut sebagai peserta.
Di dalam TOT tersebut, panitia telah mengemas kegiatan-kegiatannya dengan cukup baik dengan memasukkan kanal-kanal pelatihan, diantaranya kanal Sagusanov, Sagusablog, Sagusaku, Sagusamik, dan Menemu Baling. Selain itu, kegiatan ini terasa begitu lengkap dan penuh inspirasi serta motivasi dengan adanya pemaparan materi “Literasi: Dulu, Kini dan Nanti” yang disampaikan oleh Bapak Sururi Aziz, Ice Breaking oleh Bapak Widadi, Literasi dan Inovasi Pembelajaran oleh Ibu Rahmi, Implementasi Literasi di Sekolah Model oleh Ibu Nurlaela, Literasi, Komunikasi, dan Kepemimpinan oleh Bapak Iwan Ridwan, dan pengenalan Video Converence (Vicon) via Webex oleh Ibu Nenny Ekosari. Yang tidak kalah pentingnya, yaitu kehadiran Ketua Umum IGI Bapak Muhammad Ramli Rahim (MRR) yang membuat kegiatan TOT Jakarta ini terasa luar biasa.
Kembali kepada judul tulisan di atas, saya berijtihad menggagas dan menggegas kanal pelatihan baru yang diberi nama SAGUSAQODE. SAGUSAQODE, yang merupakan singkatan dari Satu Guru Satu Quick Response Code (QR Code), adalah sebuah kanal pelatihan yang memanfaatkan QR Code dalam membuat model pembelajaran berbasis IT. 
QR Code, atau dalam bahasa Indonesia Kode QR, dimaksudkan untuk merespon secara cepat sebuah informasi. QR Code meruapakan bentuk evolusi dari kode batang dari satu dimensi menjadi dua dimensi. Tujuan QR Code adalah untuk menyampaikan informasi dengan cepat dan mendapatkan respon yang cepat pula. Pada awal perkembangannya, QR Code digunakan untuk pelacakan kendaraan bagian di manufaktur. Namun, kini kode QR digunakan dalam konteks yang lebih luas (wikipedia).
Di abad 21 ini, dunia pendidikan dapat menggunaan QR Code dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dalam membuat model pembelajaran, misalnya, guru dapat mengolaborasikan QR Code ini dengan media-media digital lain, baik media digital on line maupun off line.
Saya menggagas kanal SAGUSAQODE ini dengan pertimbangan sebagai berikut:
1.    Sederhana dan mudah dibuat
2.    Aplikatif langsung dalam pembelajaran
3.    Aplikatif dalam hampir seluruh mata pelajaran dan materi
4.    Menarik
5.    Bisa melibatkan seluruh siswa dalam aktivitas pembelajaran, baik aktivitas individu maupun kelompok
6.    Mudah dioperasikan karena berbasis android yang sudah sangat familiar di kalangan siswa
Adapun hal-hal yang perlu disiapkan dalam SAGUSAQODE ini adalah sebagai berikut:
1.    Software QR Code Generator/Maker
2.    Aplikasi QR Code Rader
Software QR Code Generator/Maker adalah software untuk membuat QR Code. Software ini dapat membuat atau menyimpan QR Code dalam bentuk data Website URL, Yotube Video, Image File, PDF File, Google Maps Location, Vcard, Text, E-mail, Telephone Number, SMS, Facebook, dan lain sebagainya.
Hal pertama yang perlu disiapkan adalah software QR Code Generator. Software yang saya temukan baru dalam bentuk software on-line. Sebenarnya ada beberapa link software QR Code Generator on-line yang bisa kita gunakan untuk membuat Kode QR. Namun pada kesempatan ini, saya menggunakan software on-line QR Code pada link website http://www.qrstuff.com/. Website ini menyediakan layanan pembuat QR Code for free (gratis) dan for subscribers only (berbayar).
Yang kedua, setelah membuat QR Code yang kita dan/atau siswa butuhkan dalam pembelajaran, adalah aplikasi QR Code Reader. QR Code Reader adalah sebuah aplikasi berbasis android untuk membaca Kode QR yang telah dibuat. Kita, sebagai guru, dan siswa tinggal mengunduh aplikasi QR Code Reader di Play Store.
Setelah kita siapkan kedua hal tersebut, kita buat model pembelajarannya. Model pembelajaran dengan menggunakan QR Code ini sangat mudah dibuat. Untuk mempermudah langkah-langkah pembuatannya, saya sedang membuat buku panduan atau modulnya. Semoga dalam waktu dekat sudah dapat diselesaikan untuk kemudian bisa dijadikan pedoman dalam membuat model pembelajaran berbasis QR Code. Pada kesempatan ini, untuk memberikan gambaran umum
tentang SAGUSAQODE, saya sampaikan info grafisnya berikut ini.



Scan dengan menggunakan QR Code Reader

Selain dapat digunakan dalam proses pembelajaran, SAGUSAQODE ini juga dapat digunakan dalam evaluasi pembelajaran.

Akhir kata, saya berharap gagasan kanal SAGUSAQODE ini dapat diterima dan diterapkan sebagai salah satu kanal dalam pelatihan peningkatan kompetensi guru dalam hal literasi produktif berbasis IT untuk kemudian dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas masing-masing. Pun saya mengharapkan kritik dan masukan demi perbaikan gagasan SAGUSAQODE ini. Saya sampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak, terutama panitia TOT Literasi Produktif Berbasis IT Angkatan II Jakarta. #SalamSAGUSAQODE

Sumber: http://www.igi.or.id/menggagas-dan-menggegas-kanal-baru-sagusaqode-buah-inspirasi-dari-tot-literasi-produktif-berbasis-jakarta.html

Sunday, December 25, 2016

LITERASI

Bagi kebanyakan orang, literasi dimaknai sebagai kegiatan membaca dan menulis an sich. Namun pada perkembangannya saat ini, literasi dimaknai lebih luas mencakup berbagai segi kehidupan.